Archive for the ‘Uncategorized’ Category

inginkah diri ini menjadi seorang mukhlisin ???

November 5, 2013

Image

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.”

Bagaimana Agar Aku Ikhlas ?

Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah

Banyak Berdoa

Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:

« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”

Menyembunyikan Amal Kebaikan

Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).

Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadush Sholihin menyatakan, “di antara sebabnya adalah karena shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.”

Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat dengan keikhlasan.

Image

Memandang Rendah Amal Kebaikan

Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”

Takut Akan Tidak Diterimanya Amal

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).

Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut tidak diterima oleh Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih )

Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu.

Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia

Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)

Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah. Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?

Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka

Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan ia berdosa”. Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain.

Ingin Dicintai, Namun Dibenci

Saudaraku, sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan karena ingin dipuji oleh manusia tidak akan mendapatkan pujian tersebut dari mereka. Bahkan sebaliknya, manusia akan mencelanya, mereka akan membencinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memperlihat-lihatkan amalannya maka Allah akan menampakkan amalan-amalannya “ (HR. Muslim)

Akan tetapi, apabila seseorang melakukan amalan ikhlas karena Allah, maka Allah dan para makhluk-Nya akan mencintainya sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan menanamkan dalam hati-hati hamba-hamba-Nya yang saleh kecintaan terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal saleh (yaitu amalan-amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya ). (Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam sebuah hadits dinyatakan “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata: wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah kecintaan padanya di bumi. Dan sesungguhnya apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata : wahai Jibril, sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah ia. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah membenci fulan, maka benciilah ia. Maka penduduk langit pun membencnya. Kemudian ditanamkanlah kebencian padanya di bumi.” (HR. Bukhari Muslim)

Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ‘sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ‘semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Demikianlah pembahasan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

(Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sehingga sempurnalah segala amal kebaikan)

***

Disusun oleh: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ustadz Ahmad Daniel Lc.

Dari artikel ‘Inginkah Anda Menjadi Orang yang Ikhlas? — Muslim.Or.Id

dakwah adalah cinta

October 5, 2012

Image

 

memang seperti itu dakwah
dakwah adalah cinta
dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu
sampai pikiranmu
sampai perhatianmu
berjalan, duduk, dan tidurmu
bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah, tentang umat yg kau cintai

lagi-lagi memang seperti itu
dakwah,,
menyedot saripati energimu, sampai tulang belulangmu
sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu
tubuh yg luluh lantak diseret-seret
tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari

seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah
beliau memang akan tua juga
tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah

sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz
dia memimpin hanya sebentar
tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung
tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah
tubuh mulia itu terkoyak-koyak
sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja
tubuh yang segar bugar itu sampai rontok
hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal
toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang

dan di etalase akhirat kelak,
mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik
kepalanya sampai botak
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana
kurang heroik?
akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;
luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih,
yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat

dakwah bukannya tidak melelahkan, bukannya tidak membosankan
dakwah bukannya tidak menyakitkan,
bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan

tidak,,
justru kelelahan, justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya
setiap hari
satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”

justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani,,
justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi,,
akhirnya menjadi adaptasi
kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur,
pada akhirnya salah satunya harus mengalah
dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman
lalu terus berkobar dalam dada

begitu pula rasa sakit
hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka
hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik

begitupun Umar
saat Rasulullah wafat, ia histeris
saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk
bukannya tidak cinta pada Abu Bakar
tapi saking seringnya “ditinggalkan”, hal itu sudah menjadi kewajaran
dan menjadi semacam tonik bagi iman

karena itu kamu tahu
pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore
yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu
karena mereka jarang disakiti di jalan Allah
karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar
maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan,
mereka merasa menjadi orang besar
dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati,
“ya Allah, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak
jasadnya dikoyak beban dakwah
tapi iman di hatinya memancarkan cinta
mengajak kita untuk terus berlari

“teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu
teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu
teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu
tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu”

 

(alm. Ust Rahmat Abdullah)

November 18, 2011

jadikan cintaku padaMu Ya Allah
berhenti di titik ketaatan
meloncati rasa suka dan tak suka

karena aku tahu,
mentaatiMu dalam hal yang tak kusukai
adalah kepayahan, perjuangan, dan gemilang pahala
karena seringkali ketidaksukaanku,
hanyalah bagian dari ketidaktahuanku

-JCPP-

ikhlas

November 12, 2011

ikhlas, kata yang tak mudah dan selalu menyisakan tanya
dan kita adalah manusia
yang tak dapat tidak
suka menuliskan kebajikan-kebajikan kita

maka aku menuliskan kebajikan di atas air
menjadi gelombang kecil, kecil saja
di permukaan, meriak dan menghilang
lalu yang tampak hanya wajahku kehausan

atau terkadang kutulis di atas pasir
agar angin keikhlasan menerbangkannya jauh dari ingatan
agar ia terhapus, menyebar bersama butir pasir ketulusan

-SAF, JCPP-

11.11.11

November 11, 2011

hari ini mempunyai tanggal yang bagus,,
11 November 2011 (11-11-11),,

saat tadi pagi melihat televisi, begitu banyak orang yang ingin menjadikan hari ini, tanggal ini, sebagai suatu tanggal yang berarti dalam kehidupan mereka, seperti pernikahan, kelahiran anak, dan juga hal-hal lain..
mungkin karena selain ini tanggal yang unik, juga terjadi pada hari jum’at, panglima nya para hari..

dulu aku mempunyai impian untuk menjalankan suatu sunnah yang sangat dianjurkan pada tanggal ini,,
tentu saja ada alasannya,,selain tanggal yang unik dan hari jum’at, aku yang basic pendidikannya elektro pun ingin menjadikan tanggal yang penting dalam bilangan biner juga, hehe, elektro banget daah..^^v

akan tetapi ternyata Allah mempunyai rencana lain yang insyaAllah lebih baik dan lebih indah..

seperti kata seorang temenku semalam,,
kita harus sabar dan terus menjaga ruhiyah ini,,
serta terus berkhuznudzon kepada Allah..

insyaAllah suatu saat nanti,
Allah akan memberikan yang terbaik,pada waktu yang tepat..

aamiiin..

bandung, 11-11-11

cinta dan syukur

November 10, 2011

jangan terlalu mencintai seseorang,
karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi yang kamu benci
jangan terlalu membenci seseorang,
karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi yang kamu cintai

cintailah seseorang karena Allah,
dan bencilah seseorang karena Allah

bertemulah dengan seseorang karena Allah,
dan berpisahlah dengan seseorang karena Allah

penuhilah hati dengan cinta kepada Allah,
cintailah Allah melebihi dari cinta kepada dunia dan seisinya,
bahkan kepada diri sendiri, keluarga, (calon) keluarga sendiri, dan hal-hal lain yang sangat disukai

penuhilah hati kami ya Rabbii dengan bilangan cinta-Mu
cinta yang tak terbatas dan tak terputus oleh waktu

tidakkah kita ingat, kita telah bersaksi (bersumpah) bahwa Allah adalah Rabb kita
pernahkah kita menghitung, sudah berapa menit dan berapa liter oksigen yang kita hirup hingga saat ini?
lalu pernahkan kita membandingkannya dengan berapa menit kita bersyukur dan mengingat Allah?
Allah Maha Pengasih tidak pernah berhitung atas nikmat yang kita terima,
Allah hanya meminta kita bersyukur kepada-Nya,
maka jadilah manusia yang pintar bersyukur

Ibnu ‘Auf bertutur dalam syairnya :
Aku heran pada yang mengagumi tubuhnya
Padahal sebelumnya berupa air mani yang hina
Esok hari, bentuknya yang indah akan berubah
Menjadi bangkai amat busuk di liang kuburnya
Sedangkan sekarang, ia membawa kotoran berbau …

astaghfirullaah…
masih pantaskah kita sombong?
tidak ada yang bisa dan patut kita sombongkan

terima kasih kami sampaikan padamu ya Rasulullah
tanpa perjuangan dan cinta kasihmu,
tidak mungkin kami merasakan kebahagiaan mencintai Allah dan dirimu
kami rindu padamu ya Rasul
ya Allah sampaikan shalawat dan salam kami padanya, keluarganya, para sahabat dan pengikutnya

ya Rasul…
bahkan disaat sakaratul maut menjemputmu kau masih memikirkan kami umatmu
tetapi kami malah sering melupakan sunnahmu
maafkan kami umatmu yang sering membuatmu malu dihadapan Allah karena perbuatan kami
maafkan kami yang kadang seperti tidak tahu cara berterima kasih padamu

semoga di akhirat nanti kita semua mendapatkan syafa’at dan rahmat Allah
kumpulkanlah kami semua yang mencintai-Mu dan saling mencintai karena-Mu dalam surga-Mu ya Allah
aamiin…